KERJA ..KERJA... KERJA...

Baca Juga



Walikota Mojokerto Ika Puspitasari bersama Wakil Walikota Achmad Rizal Zakaria. Berjanji langsung tancap presneleng. Kebut pembangunan dan pelayanan publik serta peningkatan ekonomi masyarakat Kota Mojokerto.

”Kami langsung setel kencang. Tidak ada waktu bersantai atau syukuran, langsung fokus kerja,” kata Ika Puspitasari kepada wartawan usai dilantik.

Ika Puspitasari resmi dilantik menjadi Walikota Mojokerto oleh Gubernur Jatim Soekarwo di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (10/12/2018). Dia dilantik bersama Wakil Wali Kota Achmad Rizal Zakaria, untuk memimpin Kota Mojokerto selama lima tahun mendatang.

Aktivis Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) itu, mengaku sudah konsolidasi beberapa bulan sebelum pelantikan untuk memetakan masalah dan solusi di lapangan. Ada sejumlah isu yang menjadi fokus kerjanya, mulai pemantapan infrastruktur, pengembangan ekonomi kreatif berbasis UMKM, dan pembangunan pariwisata berkarakter budaya Majapahit.

”Dari hal-hal itu ada banyak turunan program yang akan kami kebut. Misalnya, soal infrastruktur, fokusnya adalah pengendalian banjir,” ujar Ning Ita, sapaan akrab Ika Puspitasari.

Untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Ning Ita ingin mengereknya sehingga bisa bersaing dengan produk perusahaan raksasa. “Pemasaran UMKM kita dorong online, pengemasan kami fasilitasi, dan teknologinya kita bantu termasuk kami akan libatkan kampus dan LIPI untuk mengintroduksi teknologi yang bisa mengerek kinerja UMKM,” paparnya.

Ning Ita juga memberi titik tekan pada pengembangan pariwisata dengan mengangkat kejayaan Majapahit. Ke depan, kota Mojokerto mengusung semangat kebangkitan masa keemasan Majapahit. “Majapahit bukan hanya Pulau Jawa dan Indonesia. Tapi menjangkau lebih dari sepertiga Asia Tenggara,” tandasnya.

Terkait pendidikan, sejumlah inovasi telah disiapkan. Di antaranya memacu pendidikan anak-anak muda melalui berbagai macam beasiswa. Demikian pula inovasi pelayanan publik pun tak luput dari perhatiannya.

Keberadaan mal pelayanan publik (Graha Mojokerto Service City) akan dioptimalkan. ”Kita juga siapkan sistem pengaduan semua permasalahan warga. Ada standar operasionalnya, harus dalam waktu cepat tertangani,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya ini.

Untuk bisa menerapkan terobosan-terobosan itu, pihaknya memerlukan dukungan warga Kota Mojokerto. Selain itu, dia belajar dari tokoh seperti Gubernur Jatim Soekarwo (Pakde Karwo), Ketua Muslimat NU yang juga Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan sejumlah kepala daerah lain.

“Pakde Karwo punya konsep Jatimnomics dengan pertumbuhan inklusif dan pro-UMKM. Bu Khofifah sosok cerdas, mampu membangun partisipasi ketika menjalankan kepemimpinan. Model-model partisipatoris itulah yang akan saya jalankan di Kota Mojokerto,” jelasnya.

Di tempat sama, Gubernur Jatim Soekarwo mengingatkan pasangan kepala daerah Kota Mojokerto tidak lupa terhadap rakyat setempat. Sebab dikhawatirkan menjadi penyakit bagi pemimpin yang menang di kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

“Saat kampanye suka menyapa. Tapi, kalau sudah jadi tidak suka, entah karena lupa atau pura-pura lupa. Nah, penyakit seperti itu jangan sampai ada,” ucap Pakde Karwo, sapaan akrabnya.

Selain itu, Pakde Karwo berharap agar wali kota dan wakil wali kota menghilangkan batasan pro dan kontra selama masa menjelang Pilkada. Tapi, justru harus dirangkul serta berkolaborasi demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

“Kepala daerah segera memikirkan visi misi selama masa kepemimpinan, termasuk mengikuti program nasional, provinsi dan Kota Mojokerto. Aturannya sesuai perundang-undangan, bahwa harus berkesinambungan dengan nasional dan provinsi. Silakan berkonsultasi dengan Bappeda Jatim untuk merumus,” jelasnya. (*)
DETAK VIDEOS
SPORT VIDEOS

 
PT. DETAK INSPIRATIF INDONESIA ( DE INS SIA )
SIBERLI WWD