KI AGENG SELO MANUSIA HALILINTAR

Baca Juga


detakinspiratif. com - Ada yang berbeda di pintu masuk Masjid Agung Demak. Di sana terdapat pintu yang dikenal dengan nama Lawang Bledheg (pintu petir) bertuliskan Candra Sengkala yang berbunyi "Nogo Mulat Saliro Wani", bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M.


Lawang Bledheg itu dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng Selo. Dalam kitab Babad Tanah Jawi disebutkan, Ki Ageng Selo adalah keturunan Raja Majapahit, Brawijaya V. Pernikahan Brawijaya V dengan Putri Wandan Kuning melahirkan Bondan Kejawen atau Lembu Peteng.


Lembu Peteng yang menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub, menurunkan Ki Ageng Getas Pendawa. Dari Ki Ageng Getas Pendawa lahirlah Bogus Sogom alias Syekh Abdurrahman alias Ki Ageng Selo. Makam ki Ageng selo di desa Tawang, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.


Sebagian masyarakat Jawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Selo, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.


“Masyarakat di Jawa, khususnya di pedesaan masih percaya pada mitos ini, bila terjadi petir berteriak sambil berkata, "Gandrik! Aku Putune Ki Ageng Selo" (“Gandrik, Aku cucu Ki Ageng Selo"). Mengatakan kalimat itu sambil  berdiri tegak dengan mengacungkan kepalan tangan ke langit,” ujar juru kunci makam Ki Ageng Selo, Priyo.


Cerita tentang penangkapan petir itu dituturkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Alkisah , suatu hari Ki Ageng Sela yang tinggal di desa Tawang , Purwodadi,  pergi ke sawah.
Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar-benar hujan lebat turun.


Halilintar atau bledheg menyambar persawahan, membuat warga desa yang di sawah pontang panting menyelamatkan diri. Tetapi Ki Ageng Sela tetap mencangkul sawah. Tiba-tiba dari langit muncul petir menyambar Ki Ageng. Petir itu konon berwujud seorang kakek-kakek. Ia segera menangkap petir itu.


“Wahai, Kilat. Berhentilah mengganggu penduduk sekitar,” kata Ki Ageng Selo kepada petir yang berada di tangannya. 


“Baiklah. Aku tidak akan mengganggu penduduk lagi, juga beserta anak-cucumu,” jawab petir.


Oleh Ki Ageng Selo petir itu kemudian diikat di pohon Gandrik. Lega hati penduduk desa,  mereka tidak takut lagi disambar petir jika ke sawah.  Penduduk desa menyambut Ki Ageng Selo penuh rasa haru dan menyalami tangannya dengan mencium tangannya.


Ia tetap meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah hari sore, selesai mencangkul dia pulang sambil membawa petir tadi. Keesokan harinya dia ke Demak,  “ bledheg “dihaturkan kepada Sultan Trenggana di Demak.


Oleh Sultan Trenggana, “bledheg“ ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun-alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “bledheg“ itu.
Ketika itu datanglah seorang nenek-nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg“ dan diminumnya.


Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “bledheg” tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “bledheg” hancur berantakan.



Untuk mengenang kejadian itu, dibuat gambar kilat pada kayu berbentuk ukiran sebesar pintu masjid. Lantas mereka menyerahkannya kepada Ki Ageng Selo. Dengan senang hati Ki Ageng Selo menerimanya dan dipasang di pintu depan masjid Demak. Pintu itu masih bisa dilihat hingga sekarang.


Kisah yang menjadi legenda itu masih menjadi tanda tanya sampai sekarang. Kisah itu hanya sekedar dongeng atau sebuah cerita yang mempunyai makna yang tersirat. 


Diketahui ternyata petir bisa meninggalkan jejak di tanah, mungkin dalam kisah itu tangkapan Ki Ageng Sela adalah jejak petir yang berupa batu petir (fulgurites) yang berbentuk seperti akar-akar atau tanaman yang tak beraturan. Maka, dalam cerita Ki Ageng Sela, dikisahkan bahwa petir bisa diikat. (  K - 1 )

DETAK VIDEOS
SPORT VIDEOS

 
PT. DETAK INSPIRATIF INDONESIA ( DE INS SIA )
SIBERLI WWD